• Sabtu, 18 April 2026

Mahasiswa di Tengah Demokrasi yang Gaduh Sebagai Agen Perubahan

Photo Author
Tri Amelia Djafar S.H, Gorontalo 24 Jam
- Minggu, 28 Desember 2025 | 18:09 WIB
Mahasiswa bukan sekadar penonton zaman, tetapi suara kritis yang menjaga nurani perubahan. (Gambar Ilustrasi)
Mahasiswa bukan sekadar penonton zaman, tetapi suara kritis yang menjaga nurani perubahan. (Gambar Ilustrasi)

GORONTALO24JAM - Mahasiswa kerap disebut sebagai agen perubahan, namun sebutan itu akan kehilangan makna jika hanya berhenti sebagai slogan seremonial.

Di tengah dinamika sosial, politik, dan ekonomi yang semakin kompleks, mahasiswa dituntut tidak hanya kritis, tetapi juga bertanggung jawab dalam menyuarakan aspirasi.

Baca Juga: 10 Tips Traveling Hemat Bagi Mahasiswa Liburan Semester


Kebebasan berpikir dan berekspresi yang dimiliki mahasiswa merupakan hak konstitusional, namun kebebasan tersebut semestinya disertai dengan kedalaman analisis dan etika publik. 

Aksi demonstrasi, diskusi akademik, maupun opini di ruang digital idealnya berangkat dari data, kajian, dan niat memperbaiki keadaan, bukan sekadar luapan emosi sesaat.


Fenomena maraknya aktivisme instan di media sosial menunjukkan bahwa sebagian mahasiswa lebih tertarik pada viralitas dibandingkan substansi.

Padahal, perubahan sosial yang berkelanjutan membutuhkan konsistensi, kerja kolektif, serta kemampuan berdialog dengan berbagai pihak, termasuk mereka yang berbeda pandangan.

Baca Juga: Masih Terisolir, Bantuan ke Desa Pasir Gayo Lues Harus Seberangi Sungai Berarus Deras hingga Meniti Jembatan Tali


Di sisi lain, negara dan institusi pendidikan juga memiliki tanggung jawab moral untuk membuka ruang partisipasi yang sehat bagi mahasiswa.

Ketika suara mahasiswa diabaikan atau dicurigai secara berlebihan, maka yang terancam bukan hanya kebebasan akademik, tetapi juga kualitas demokrasi itu sendiri.


Oleh karena itu, mahasiswa perlu kembali menempatkan dirinya sebagai kelompok intelektual yang berpijak pada nalar, etika, dan kepentingan publik.

Kritik yang tajam akan lebih bermakna jika disampaikan dengan argumentasi yang jernih dan tujuan yang jelas, bukan dengan ujaran kebencian atau tindakan destruktif.

Baca Juga: Bukan Sekadar Evaluasi: Dokter AW Harus Disanksi Etik dan Diproses Pidana Kelalaian


Opini ini berpandangan bahwa masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kebijakan pemerintah, tetapi juga oleh kualitas kesadaran mahasiswa hari ini.

Ketika mahasiswa mampu menjaga integritas intelektualnya, maka perannya sebagai penggerak perubahan akan tetap relevan dan dihormati.***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Tri Amelia Djafar S.H

Tags

Terkini

X