Penulis Opini : Rahayu Kaino
Gorontalo 24 Jam,Opini–Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) memasuki usia ke-79 dengan beban besar di pundaknya. Mengusung semangat "Mencerahkan Indonesia" yang telah menjadi identitas sejak awal berdiri, organisasi mahasiswa tertua ini kini menghadapi jalan yang penuh lika-liku.
Di tengah gejolak situasi nasional yang meliputi melemahnya etika bernegara dan tantangan ekonomi global, ekspektasi terhadap peran HMI sebagai sumber ide segar dan penyuplai kader intelektual semakin tinggi. Namun kenyataannya, ia justru terjebak pada persimpangan antara menjaga marwah sejarah panjangnya atau tenggelam dalam arus pragmatisme yang kian menggila.
Alarm kemunduran mulai terdengar keras seiring memudarnya tradisi literasi, riset, dan perdebatan ideologis yang dulunya menjadi DNA khas "hijau-hitam". Fenomena "inflasi struktural"—banyaknya pengurus namun minimnya kader dengan kedalaman intelektual—mengkhawatirkan, karena berpotensi menjadikan HMI hanya mesin birokrasi penghasil politisi, bukan lagi pengabdi bangsa yang berwawasan luas.
Tak kalah krusial adalah kekhawatiran yang disuarakan oleh kaum perempuan di HMI (KOHATI). Di tengah krisis kaderisasi, mereka seringkali memikul beban ganda: menjadi benteng penjaga moral organisasi, namun hak-hak intelektualnya kerap terbentur budaya yang masih bersifat maskulin.
Keresahan muncul ketika peran perempuan hanya dilihat sebagai pemenuhan kuota atau urusan domestik organisasi, padahal sentuhan empati dan nalar kritis mereka adalah kunci untuk membangun HMI yang lebih inklusif dan humanis di tengah degradasi nilai yang terjadi saat ini.
Usia 79 tahun adalah tonggak yang menunjukkan kedewasaan, namun tanpa refleksi dan perubahan radikal, angka tersebut bisa saja menjadi awal dari masa senjakala. HMI ditantang untuk membuktikan bahwa janji mencerahkan bukan sekadar kata-kata indah dalam perayaan ulang tahun, melainkan komitmen nyata untuk mengembalikan kejayaan intelektualnya demi masa depan Indonesia yang lebih baik.