Penulis: Dara Delima, Dwi Fitria, Rena Antika, Rupiadi
Gorontalo 24 Jam, Opini - Identitas Hindu Kaharingan di Kalimantan Tengah menghadapi tantangan serius di tengah modernisasi, globalisasi, dan digitalisasi yang kian masif. Minimnya partisipasi generasi muda serta menurunnya pemahaman terhadap nilai-nilai tradisi menjadi perhatian utama dalam upaya menjaga keberlanjutan ajaran leluhur tersebut.
Penelitian terbaru yang mengkaji strategi penguatan identitas Hindu Kaharingan melalui pendekatan kearifan lokal menemukan adanya tantangan internal dan eksternal yang saling berkaitan. Secara internal, kurangnya pemahaman mendalam terhadap filosofi Panaturan, keterbatasan literatur, serta minimnya regenerasi tokoh agama yang memiliki literasi digital menjadi hambatan utama. Sementara itu, secara eksternal, arus budaya populer dan gaya hidup individualistik dinilai turut mengurangi ketertarikan generasi muda terhadap ritual dan tradisi Kaharingan.
Meski demikian, penelitian tersebut juga mengidentifikasi sejumlah peluang strategis. Integrasi pendidikan formal dan nonformal menjadi salah satu kunci utama. Pendidikan formal di IAHN Tampung Penyang Palangka Raya serta pembinaan melalui pasraman dinilai berperan penting dalam mentransmisikan nilai-nilai lokal kepada generasi penerus.
Selain itu, pemanfaatan teknologi digital dinilai sebagai langkah adaptif yang relevan dengan perkembangan zaman. Konten kreatif di platform seperti TikTok, Instagram, podcast, hingga aplikasi berbasis augmented reality dapat menjadi sarana efektif untuk menyajikan ajaran dan kearifan lokal secara lebih menarik dan mudah diakses.
Peran kelembagaan juga menjadi faktor penting. Majelis Besar Alim Ulama Hindu Kaharingan (MB-AHK), Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), serta Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI) dipandang sebagai jembatan antara tradisi dan modernitas. Di tingkat akar rumput, tokoh agama seperti Basir dan Pisur tetap memegang peran sentral sebagai penjaga nilai sakral sekaligus penafsir ajaran dalam konteks kekinian.
Berdasarkan temuan tersebut, sejumlah rekomendasi aplikatif dirumuskan. Pengembangan modul pembelajaran digital interaktif berbasis nilai Panaturan menjadi langkah prioritas, terutama untuk digunakan di pasraman dan sekolah. Peningkatan kapasitas literasi digital bagi tokoh agama dan penyuluh juga dinilai mendesak agar mereka mampu memproduksi konten edukatif yang relevan bagi generasi muda.
Di sisi lain, pemerintah dan lembaga terkait didorong untuk mendukung pendokumentasian sistematis tradisi lisan dan ritual Kaharingan dalam bentuk arsip digital terstruktur. Kolaborasi antara akademisi, tokoh adat, dan komunitas muda juga diusulkan melalui penyelenggaraan festival budaya hybrid, seperti Tandak Intan Kaharingan, yang memadukan unsur tradisi dengan pemanfaatan platform streaming.
Dengan strategi yang terintegrasi antara pendidikan, teknologi, dan kolaborasi kelembagaan, identitas Hindu Kaharingan diharapkan tidak hanya tetap lestari, tetapi juga mampu berkembang secara adaptif di tengah dinamika budaya global. Pendekatan berbasis kearifan lokal ini menjadi fondasi penting agar nilai-nilai spiritual dan tradisi Kaharingan tetap hidup sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia yang inklusif dan berkelanjutan.***