GORONTALO24JAM – Universitas Negeri Malang (UM) menghadirkan inovasi batik ramah lingkungan melalui program pengabdian masyarakat di Batik Wenangkayana, Kediri.
Inisiatif ini muncul seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap produk berkelanjutan, yang menuntut sektor ekonomi kreatif untuk beradaptasi secara inovatif.
Baca Juga: Bone Bolango Semarakkan HUT ke-25 Gorontalo: Layanan Publik dan Bakti Sosial untuk Masyarakat
Program ini didanai Non-APBN UM tahun 2025 dengan kontrak nomor 24.2.1016/UN32.14.1/PM/2025.
Dipimpin oleh Dr. Iriaji, M.Pd., program ini menitikberatkan pada penguatan kreativitas dan edupreneurship di bidang seni rupa.
Inovasi yang diterapkan sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin ke-17, yaitu membangun kemitraan untuk mencapai tujuan bersama.
Program yang berlangsung sejak 24 Februari hingga 10 November 2025 ini menghadirkan pengembangan batik cap berbahan reusable material, yang tidak hanya mengurangi limbah produksi, tetapi juga meningkatkan nilai jual dan daya saing batik lokal di pasar yang semakin kompetitif.
“Penggunaan bahan yang dapat dipakai kembali dalam batik cap tidak hanya mendukung pelestarian lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi berkelanjutan bagi para pengrajin,” ujar Dr. Iriaji.
Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara akademisi dan industri kreatif untuk membangun ekosistem kewirausahaan yang kuat.
Baca Juga: Ketahanan Pangan di Ujung Tanduk: Penjarahan Menjadi Cermin Krisis Distribusi
Pelaksanaan program mencakup pelatihan teknik produksi batik ramah lingkungan, desain kreatif, hingga manajemen usaha. Para peserta juga dibekali strategi pemasaran digital untuk menjawab tren bisnis modern.
Perwakilan Batik Wenangkayana Kediri menyebutkan bahwa pendampingan ini membawa perubahan nyata.
“Inovasi ini memberi nilai tambah dan memperluas wawasan kami dalam mengelola usaha batik yang ramah lingkungan. Kami optimis bisa menjangkau pasar lebih luas,” ujarnya.
Dengan pendekatan edupreneurship, pengrajin didorong menjadi wirausahawan kreatif yang mampu mengelola produksi, desain, dan distribusi secara mandiri.
Batik pun tidak lagi sekadar identitas budaya, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi lokal yang tangguh menghadapi dinamika pasar.