• Sabtu, 18 April 2026

Mahasiswa Universitas Negeri Malang Perkuat Kreativitas dan Edupreneurship Batik Lokal

Photo Author
Tri Amelia Djafar S.H, Gorontalo 24 Jam
- Selasa, 2 Desember 2025 | 16:14 WIB
Universitas Negeri Malang (UM) Dorong Inovasi Batik Ramah Lingkungan untuk Ekonomi Kreatif Kediri. (Sumber Foto : Universitas Negeri Malang)
Universitas Negeri Malang (UM) Dorong Inovasi Batik Ramah Lingkungan untuk Ekonomi Kreatif Kediri. (Sumber Foto : Universitas Negeri Malang)

GORONTALO24JAMUniversitas Negeri Malang (UM) menghadirkan inovasi batik ramah lingkungan melalui program pengabdian masyarakat di Batik Wenangkayana, Kediri.

Inisiatif ini muncul seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap produk berkelanjutan, yang menuntut sektor ekonomi kreatif untuk beradaptasi secara inovatif.

Baca Juga: Bone Bolango Semarakkan HUT ke-25 Gorontalo: Layanan Publik dan Bakti Sosial untuk Masyarakat

Program ini didanai Non-APBN UM tahun 2025 dengan kontrak nomor 24.2.1016/UN32.14.1/PM/2025.

Dipimpin oleh Dr. Iriaji, M.Pd., program ini menitikberatkan pada penguatan kreativitas dan edupreneurship di bidang seni rupa.

Inovasi yang diterapkan sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin ke-17, yaitu membangun kemitraan untuk mencapai tujuan bersama.

Program yang berlangsung sejak 24 Februari hingga 10 November 2025 ini menghadirkan pengembangan batik cap berbahan reusable material, yang tidak hanya mengurangi limbah produksi, tetapi juga meningkatkan nilai jual dan daya saing batik lokal di pasar yang semakin kompetitif.

“Penggunaan bahan yang dapat dipakai kembali dalam batik cap tidak hanya mendukung pelestarian lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi berkelanjutan bagi para pengrajin,” ujar Dr. Iriaji.

Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara akademisi dan industri kreatif untuk membangun ekosistem kewirausahaan yang kuat.

Baca Juga: Ketahanan Pangan di Ujung Tanduk: Penjarahan Menjadi Cermin Krisis Distribusi

Pelaksanaan program mencakup pelatihan teknik produksi batik ramah lingkungan, desain kreatif, hingga manajemen usaha. Para peserta juga dibekali strategi pemasaran digital untuk menjawab tren bisnis modern.

Perwakilan Batik Wenangkayana Kediri menyebutkan bahwa pendampingan ini membawa perubahan nyata.

“Inovasi ini memberi nilai tambah dan memperluas wawasan kami dalam mengelola usaha batik yang ramah lingkungan. Kami optimis bisa menjangkau pasar lebih luas,” ujarnya.

Dengan pendekatan edupreneurship, pengrajin didorong menjadi wirausahawan kreatif yang mampu mengelola produksi, desain, dan distribusi secara mandiri.

Batik pun tidak lagi sekadar identitas budaya, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi lokal yang tangguh menghadapi dinamika pasar.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Tri Amelia Djafar S.H

Tags

Terkini

10 Tips Traveling Hemat Bagi Mahasiswa Liburan Semester

Minggu, 28 Desember 2025 | 12:39 WIB
X