• Sabtu, 18 April 2026

Ketahanan Pangan di Ujung Tanduk: Penjarahan Menjadi Cermin Krisis Distribusi

Photo Author
Pengki Djoha, Gorontalo 24 Jam
- Senin, 1 Desember 2025 | 13:09 WIB
Penulis Opini: Nurdike Ismail, Menteri Ketahanan Pangan BEM Universitas Negeri Gorontalo
Penulis Opini: Nurdike Ismail, Menteri Ketahanan Pangan BEM Universitas Negeri Gorontalo

GORONTALO 24 JAM, OPINI –Hujan deras dan banjir yang kembali melanda sebagian wilayah Sumatra membuat banyak masyarakat terpaku pada satu pertanyaan sederhana: “Apakah bahan pangan masih tersedia besok?” Di tengah genangan yang melumpuhkan akses jalan dan distribusi logistik, kekhawatiran berubah menjadi kecemasan, bahkan kepanikan massal.

Baca Juga: Mahasiswa Filipina Kagum dengan Pengalaman Belajar di UBSI


Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terbaru menunjukkan bahwa dalam tiga tahun terakhir, frekuensi bencana hidrometeorologi meningkat lebih dari 35%, berdampak langsung pada rantai pasok pangan di berbagai provinsi. Sumatera Barat hanyalah salah satu contoh nyata bagaimana bencana dapat melumpuhkan sistem distribusi dalam hitungan jam.

Menurut berita terkini, pemerintah sudah menyiapkan bantuan pangan bagi wilayah terdampak banjir, termasuk seperti Sumatra Barat. Untuk periode tanggap darurat, telah disiapkan pengiriman ribuan ton beras dan minyak goreng, sebagai bagian dari upaya memastikan pasokan tetap tersedia.

Baca Juga: Sinergi Akademisi: Pemerintah, UM dan DLH Balikpapan Perluas Kajian Lingkungan Berbasis Data

Meski demikian, di banyak pasar lokal, khususnya di zona terdampak, rak-rak yang biasa penuh kini tampak mulai menipis. Keterlambatan distribusi, akses jalan terputus, dan keterbatasan logistik membuat penyaluran bahan pokok tak merata. Di sinilah rasa aman masyarakat mulai goyah.

Masyarakat yang awalnya berharap bantuan segera tiba kini menghadapi kenyataan sulit mendapatkan kebutuhan pokok. Ketidakpastian stok memicu fenomena panic buying, warga berbondong-bondong membeli bahan pokok sebanyak mungkin ketika ada kesempatan, karena takut besok kehabisan.

Baca Juga: Mahasiswa UNCEN ajak Generasi Muda Wujudkan Papua Adil dan Damai lewat CDC II 2025

Situasi makin tegang ketika muncul video viral yang memperlihatkan sekelompok orang menyerbu dan menjarah supermarket di kawasan terdampak. Rak-rak sisa bahan pokok langsung diserbu, menegaskan bahwa ketika distribusi gagal, meskipun stok secara makro tersedia, rasa aman terhadap pangan bisa hilang.

Sebagai Menteri Ketahanan Pangan BEM Universitas Negeri Gorontalo, saya melihat penjarahan bukan cuma soal kriminalitas, melainkan alarm sosial bahwa sistem distribusi telah gagal menjangkau masyarakat pada saat genting. Cadangan pangan bisa melimpah, tetapi jika akses dan distribusi terputus, itu sama seperti kekosongan dan ketakutan bisa berubah jadi tindakan ekstrem.

Baca Juga: Sinergi Akademisi: Pemerintah, UM dan DLH Balikpapan Perluas Kajian Lingkungan Berbasis Data

Krisis pangan di tengah banjir Sumatra memberikan pelajaran penting bahwa ketahanan pangan bukan sekadar soal cadangan yang tersedia, tetapi juga soal akses, distribusi, dan rasa aman masyarakat.

Pemerintah dan pihak terkait perlu mempercepat penyaluran bahan pokok ke daerah terdampak, termasuk wilayah terpencil atau terisolasi, tanpa menunggu jalur distribusi normal pulih sepenuhnya. Jalur distribusi alternatif, baik darat, air, maupun lokal darurat, harus siap digunakan agar bantuan bisa sampai tepat waktu. Selain itu, transparansi informasi kepada masyarakat sangat penting; warga harus mengetahui kapan bantuan akan tiba, ketersediaan stok regional, dan mekanisme distribusi yang diterapkan agar kepanikan dapat diminimalkan.

Baca Juga: IIPG dan HWK Bone Bolango Sukseskan MUSDA Golkar dengan Aksi Penanaman Pohon, Giwana Pedro Bau: Mari Hijaukan Negeri dan Pulihkan Bumi


Dalam jangka panjang, sistem ketahanan pangan harus dirancang tangguh terhadap gangguan, di mana cadangan, logistik, distribusi, dan mekanisme darurat saling mendukung agar masyarakat tetap merasa aman bahkan di saat bencana.

Krisis ini menunjukkan bahwa ketahanan pangan sejati bukan hanya soal “stok aman”, tapi soal kesigapan sistem dan keberpihakan terhadap akses pangan bagi masyarakat di saat genting. Ketika distribusi tersendat, stok bisa jadi sia-sia, dan ketika rasa aman hilang, konflik sosial seperti penjarahan bisa terjadi.

“Perjalanan pangan dari titik produksi hingga rumah warga adalah ujian nyata ketahanan pangan. Dalam setiap truk, perahu, dan lorong yang menembus banjir, tersimpan harapan bahwa masyarakat tetap terpenuhi kebutuhannya, tanpa panik, dan dengan rasa aman,” tutup Nurdike Ismail.***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Pengki Djoha

Tags

Terkini

X