• Sabtu, 18 April 2026

Menteri Ketenagakerjaan Ajak Mahasiswa ITB Adaptif Di Era Disrupsi Teknologi

Photo Author
Tri Amelia Djafar S.H, Gorontalo 24 Jam
- Jumat, 28 November 2025 | 11:57 WIB
Studium Generale ITB, Kemnaker Prof. Yassierli Dorong Mahasiswa ITB Siap Hadapi Transformasi Dunia Kerja. (Sumber Foto : Kampus Institut Teknologi Bandung)
Studium Generale ITB, Kemnaker Prof. Yassierli Dorong Mahasiswa ITB Siap Hadapi Transformasi Dunia Kerja. (Sumber Foto : Kampus Institut Teknologi Bandung)

GORONTALO24JAM – Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia, Prof. Yassierli, Ph.D., hadir sebagai pembicara dalam Studium Generale ITB yang digelar di Aula Barat Kampus Ganesha, Kamis (27/11/2025).

Pada kuliah umum bertema “Mempersiapkan Diri Menghadapi Masa Depan Pekerjaan” tersebut, beliau mendorong mahasiswa ITB untuk memahami realitas baru dunia ketenagakerjaan sekaligus mempersiapkan kompetensi yang relevan dengan perubahan global.

Baca Juga: MK Tolak Gugatan Mahasiswa, Soal Rakyat Tak Bisa Pecat DPR Langsung

Wakil Rektor Bidang Komunikasi, Kemitraan, Kealumnian, dan Administrasi (WRKMAA) ITB, Dr. A. Rikrik Kusmara, S.Sn., M.Sn., dalam sambutannya menegaskan bahwa kuliah umum ini menjadi peluang berharga bagi mahasiswa untuk memperoleh wawasan langsung mengenai dinamika tenaga kerja nasional dan internasional.

Ia menambahkan bahwa ITB tengah melakukan transformasi kurikulum agar lulusannya mampu lebih cepat beradaptasi terhadap perubahan industri, perkembangan teknologi, serta kebutuhan pasar kerja.

“Dalam beberapa tahun terakhir, ITB telah memperbarui kurikulumnya agar mahasiswa yang lulus 2–3 tahun mendatang mampu ikut membangun Indonesia dalam 5–10 tahun ke depan dengan kesiapan menghadapi tantangan ketenagakerjaan, baik di tingkat nasional maupun global,” ujarnya.

Tantangan Ketenagakerjaan dan Pergeseran Dunia Kerja

Dalam pemaparannya, Prof. Yassierli menggambarkan kondisi ketenagakerjaan Indonesia yang masih diwarnai sejumlah persoalan struktural, seperti tingginya pengangguran terdidik hingga besarnya jumlah pekerja di sektor informal.

Ia juga menyoroti rendahnya kemampuan digital tenaga kerja Indonesia dibandingkan negara-negara maju.

“Saat ini sebagian besar tenaga kerja kita berada di sektor informal mulai dari pekerja lepas, pengemudi ojol, hingga pelaku UMKM. Proporsi ini terus naik dan mencerminkan munculnya berbagai jenis pekerjaan baru seperti afiliator,” jelasnya.

Baca Juga: Gala Dinner UGM Dan Kagama Sulsel Perkuat Semangat Mahasiswa Di PIMNAS 38

Ia menuturkan bahwa dunia kerja kini berada dalam era VUCA atau BANI periode yang penuh ketidakpastian, kompleksitas, dan perubahan cepat.

Untuk mampu bertahan dan berkembang, tenaga kerja perlu memiliki ketahanan (resilience) dan kemampuan beradaptasi yang kuat.

Prof. Yassierli juga menyebut tiga pendorong utama perubahan lanskap pekerjaan global, yakni AI & digitalisation disruption, green transition & sustainability, serta demographic & economy shift.

Transformasi tersebut berlangsung secara eksponensial, memunculkan profesi baru sekaligus menggeser pekerjaan rutin yang dapat digantikan oleh teknologi seperti robotika, platform digital, dan kecerdasan buatan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Tri Amelia Djafar S.H

Tags

Terkini

X