• Sabtu, 18 April 2026

MBG Investasi Penting Menuju Indonesia Emas 2045, Peneliti UNG Ungkap Faktor Penentu Keberhasilan

Photo Author
Pengki Djoha, Gorontalo 24 Jam
- Kamis, 2 April 2026 | 23:08 WIB
Gambar Ilustrasi
Gambar Ilustrasi

Gorontalo 24vJam–Indonesia sedang menatap visi besar menuju Indonesia Emas 2045. Namun, jalan menuju sana terhalang oleh tantangan serius berupa tingginya angka stunting dan rendahnya asupan gizi pada anak sekolah. Masalah gizi bukan sekadar berkaitan dengan fisik, melainkan menjadi penentu utama kemampuan kognitif, prestasi belajar, hingga produktivitas ekonomi bangsa di masa depan.

Untuk menjawab tantangan tersebut, pemerintah menghadirkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun, program ini bukan sekadar membagikan makanan. Sebuah tinjauan literatur sistematis dari peneliti Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo (UNG) mengungkap bahwa MBG adalah mesin penggerak pembangunan yang multidimensi.

Investasi Ganda: Otak Sehat, Ekonomi Kuat

Program makan siang di sekolah merupakan investasi jangka panjang. Secara kesehatan, nutrisi yang terpenuhi akan meningkatkan daya tahan tubuh dan fokus belajar siswa. Namun di balik itu, program ini juga memutar roda ekonomi daerah.

"Selain memberikan manfaat bagi kesehatan dan pendidikan, program ini juga memiliki dampak ekonomi yang cukup besar. Program makan bergizi gratis dapat membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat, terutama bagi petani lokal, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta sektor distribusi pangan," tulis kajian tersebut.

Keterlibatan pelaku usaha lokal dalam penyediaan bahan makanan diyakini dapat meningkatkan perputaran ekonomi di daerah serta memperkuat ketahanan pangan lokal. Artinya, setiap rupiah yang dikeluarkan negara untuk gizi anak, juga kembali memperkuat ekonomi masyarakat.

Faktor Penentu Keberhasilan

Hasil kajian bertajuk “Implementation of the Free Nutritious Meal Program in Schools: A Systematic Literature Review of Success and Failure Factors” oleh tim FK UNG menyoroti bahwa niat baik saja tidak cukup. Ada beberapa faktor kunci yang menentukan keberhasilan:

1. Tata Kelola dan Kepemimpinan: Koordinasi antarsektor harus sinkron. Tanpa transparansi dan kepemimpinan yang kuat di daerah, anggaran besar berisiko tidak memberikan dampak maksimal.
2. Adaptasi Lokal: Kebijakan harus fleksibel. Apa yang berhasil di satu daerah belum tentu cocok diterapkan di daerah lain karena perbedaan karakteristik geografis dan sosial.
3. Prioritas Wilayah 3T: Program akan jauh lebih efektif jika diprioritaskan untuk daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) yang memiliki tantangan akses gizi lebih besar.

Tantangan Fiskal dan Logistik

Meski menjanjikan, program ini menghadapi tantangan berat. Ketahanan fiskal menjadi sorotan utama karena memerlukan pendanaan besar dan berkelanjutan agar tidak membebani APBN dalam jangka panjang.

Selain itu, masalah distribusi makanan, keterbatasan infrastruktur sekolah, dan sistem pengawasan juga menjadi pekerjaan rumah. Partisipasi masyarakat juga dinilai sangat penting dalam pengawasan agar program berjalan efisien dan tepat sasaran.

Fondasi Menuju 2045

Program Makan Bergizi Gratis bukan sekadar kebijakan populis, melainkan fondasi penting bagi peradaban Indonesia. Keberhasilannya bergantung pada sinergi antara pemerintah pusat, daerah, sektor swasta, dan masyarakat.

"Jika dikelola dengan transparan, adaptif, dan berbasis data ilmiah—seperti yang ditekankan dalam kajian FK UNG—program ini akan menjadi investasi terbaik jangka panjang bagi masa depan bangsa, sekaligus fondasi penting dalam mewujudkan generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan produktif menuju Indonesia Emas 2045," pungkas tulisan tersebut. **

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Pengki Djoha

Tags

Terkini

UNBITA Gelar Bimtek Tulis Karya Ilmiah Intensif

Kamis, 18 Desember 2025 | 14:45 WIB
X