Gorontalo 24 Jam–Dodol dan nasi bulu (bambu) khas suku Jawa Tondano berhasil menjadi sajian andalan yang banyak dicari masyarakat Kabupaten Gorontalo saat merayakan tradisi Lebaran Ketupat. Perayaan yang diperingati setiap 7 Syawal atau sepekan setelah Hari Raya Idul Fitri ini semakin meriah dengan kehadiran kedua kuliner yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi lokal.
Hartati, salah satu pelaku usaha yang berbasis di Dusun Talikuran, Desa Reksonegoro, Kecamatan Tibawa, mengungkapkan bahwa kedua produknya menjadi primadona pelanggan menjelang perayaan. Persiapan produksi sudah dimulai sejak pertengahan bulan Ramadhan untuk mengantisipasi lonjakan permintaan.
"Kami menerima pesanan dodol ukuran kecil sebanyak 3.500 bungkus dan ukuran besar 1.500 bungkus, sementara nasi bulu mencapai 500 ujung – di sini kita menghitungnya per ujung bambu khusus yang digunakan," jelas Hartati.
Sebagai sajian andalan, kedua kuliner ini dijual dengan harga yang terjangkau. Dodol ukuran kecil dibanderol Rp3.000 per bungkus dan ukuran besar Rp5.000 per bungkus, sedangkan nasi bulu dijual Rp35.000 per ujung bambu.
Seluruh proses pembuatan tetap dilakukan secara mandiri oleh anggota keluarga Hartati tanpa melibatkan tenaga kerja luar. Hal ini bertujuan untuk menjaga cita rasa khas yang telah dipertahankan selama lebih dari 10 tahun usaha dijalankan.
"Kami selalu berusaha mempertahankan tradisi kuliner Jawa Tondano yang sudah dikenal masyarakat saat Lebaran Ketupat. Semua dibuat dengan cara tradisional agar kualitas dan rasa tetap konsisten," ujarnya.
Hartati berharap sajian andalan yang dihasilkan keluarganya dapat terus dikenal luas dan menjadi bagian penting dalam pelestarian budaya serta memberikan manfaat ekonomi bagi keluarganya.
"Semoga dodol dan nasi bulu khas kita tetap menjadi pilihan utama masyarakat saat merayakan Lebaran Ketupat dan bisa terus berkembang ke depannya," tambahnya.***