• Sabtu, 18 April 2026

Viral Dugaan Bullying, Kepala SMPN 8 Satap Telaga Biru: Tegaskan Tidak Ada Toleransi

Photo Author
Fajar Hunawa, Gorontalo 24 Jam
- Rabu, 15 April 2026 | 13:47 WIB
Kepala SMP Negeri 8 Satap Telaga Biru, Kabupaten Gorontalo, Imran Rahman, M.Pd. (Foto: Otanaha.id).
Kepala SMP Negeri 8 Satap Telaga Biru, Kabupaten Gorontalo, Imran Rahman, M.Pd. (Foto: Otanaha.id).

Gorontalo 24 Jam - Kepala SMP Negeri 8 Satap Telaga Biru, Kabupaten Gorontalo, Imran Rahman, menegaskan komitmen sekolah dalam menangani dugaan kasus perundungan yang melibatkan siswanya, meski peristiwa tersebut terjadi di luar lingkungan sekolah dan di luar jam belajar.

Ia menjelaskan, kasus yang sempat viral di media sosial itu berupa tindakan kekerasan yang diduga dilakukan oleh seorang siswa kelas IX terhadap siswa kelas VII.

“Walaupun kejadiannya bukan di sekolah, kami tetap menindaklanjuti secara serius. Perundungan dalam bentuk apa pun tidak bisa ditoleransi,” ujar Imran, Rabu (15/4/2026).

Menurutnya, pihak sekolah selama ini terus memberikan edukasi kepada siswa terkait bahaya bullying dan konsekuensi yang dapat ditimbulkan, termasuk kemungkinan diproses secara hukum.

“Kami sudah sering mengingatkan bahwa tindakan seperti ini ada konsekuensinya. Jika terjadi, silakan diproses hukum agar ada efek jera,” tegasnya.

Dari hasil penelusuran internal sekolah, insiden tersebut diduga dipicu oleh kesalahpahaman antara kedua siswa. Pelaku tersinggung karena merasa korban memandangnya dengan cara yang dianggap tidak menyenangkan.

“Informasi yang kami himpun, kejadian berawal dari ketersinggungan. Pelaku merasa dipandang sinis sehingga emosi dan berujung pada tindakan kekerasan,” jelas Imran.

Untuk memastikan kronologi kejadian, pihak sekolah telah mempertemukan kedua belah pihak bersama orang tua masing-masing. Langkah ini dilakukan guna menggali informasi secara menyeluruh.

“Hasil pertemuan menunjukkan tidak ada konflik lain di luar peristiwa itu. Ini murni karena kesalahpahaman,” tambahnya.

Dalam pertemuan tersebut, orang tua pelaku justru meminta agar kasus ini diproses melalui jalur hukum sebagai bentuk pembelajaran bagi anaknya. Sementara itu, pihak korban juga menyatakan akan melanjutkan kasus tersebut ke ranah hukum.

Imran menegaskan, sekolah memilih bersikap terbuka dalam menangani persoalan ini agar menjadi pelajaran bersama dan mencegah kejadian serupa terulang.

“Kami tidak ingin menutup-nutupi. Ini harus jadi pembelajaran, baik bagi siswa maupun orang tua,” pungkasnya.***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Fajar Hunawa

Tags

Terkini

X