• Sabtu, 18 April 2026

Tumbilotohe: Antara Tradisi yang Hidup dan Kerja Perempuan yang tak Terlihat

Photo Author
Pengki Djoha, Gorontalo 24 Jam
- Selasa, 17 Maret 2026 | 06:11 WIB
Penulis Opini : Rahayu Kaino
Penulis Opini : Rahayu Kaino

Gorontalo 24 Jam, Opini  – Setiap menjelang akhir bulan Ramadan, langit malam Gorontalo menjadi terang benderang dengan ribuan nyala lampu minyak yang menyala di halaman rumah, sepanjang jalan raya, dan sekitar kawasan masjid. Ini adalah momen Tumbilotohe – tradisi malam pasang lampu yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas masyarakat Gorontalo, sekaligus simbol spiritual yang mengingatkan akan kedekatan dengan Sang Pencipta menjelang Hari Raya Idul Fitri.
Tradisi Tumbilotohe merupakan salah satu warisan budaya masyarakat Gorontalo yang dilaksanakan pada malam-malam terakhir bulan Ramadan dengan menyalakan ribuan lampu minyak di halaman rumah, jalan, dan tempat ibadah. Tradisi ini tidak hanya menjadi simbol spiritual dalam menyambut malam Lailatul Qadar, tetapi juga menjadi ruang sosial yang memperlihatkan dinamika relasi gender dalam masyarakat.
Namun tidak banyak yang tahu bahwa keberlangsungan tradisi yang indah dan sakral ini sangat bergantung pada kerja dan dedikasi perempuan Gorontalo. Tangan mereka adalah yang menjadi tulang punggung di setiap tahap persiapan dan pelaksanaan Tumbilotohe.

Beberapa hari sebelum perayaan, aktivitas persiapan mulai berkobar di setiap rumah tangga. Perempuan yang biasanya mengurus urusan domestik kini menambah beban kerja dengan menyiapkan segala sesuatunya untuk Tumbilotohe. Mereka yang membersihkan setiap sudut rumah hingga bersinar, yang merapikan halaman dan menghiasnya dengan dekorasi sederhana namun bermakna, serta yang memilih dan menyiapkan wadah lampu, minyak, dan kompor yang akan digunakan. Tak hanya itu, mereka juga mengatur agar seluruh anggota keluarga dapat berpartisipasi dengan tenang, mulai dari menyediakan pakaian hingga menyiapkan makanan untuk bersama-sama menikmati pemandangan cahaya malam.

Kerja-kerja ini sering dianggap sebagai bagian dari kewajiban domestik yang alami, sehingga kontribusi mereka jarang mendapatkan pujian atau pengakuan yang layak. Padahal tanpa tangan perempuan yang bekerja dengan tekun, Tumbilotohe tidak akan mampu menghadirkan kemeriahan dan keindahan yang menjadi daya tarik setiap tahunnya – baik bagi masyarakat lokal maupun wisatawan yang datang menyaksikannya.

Dalam perspektif kajian gender, situasi ini menunjukkan bagaimana tradisi budaya sering kali bergantung pada apa yang disebut sebagai kerja reproduksi sosial pekerjaan yang menjaga keberlangsungan kehidupan sosial, budaya, dan komunitas. Kerja ini meliputi aktivitas merawat rumah tangga, menjaga hubungan sosial, serta mentransmisikan nilai-nilai budaya kepada generasi berikutnya. Dalam banyak masyarakat, termasuk di Gorontalo, pekerjaan ini lebih banyak dilakukan oleh perempuan.

Ketika Tumbilotohe semakin dikenal sebagai acara budaya dan pariwisata yang menarik perhatian nasional bahkan internasional, sorotan publik lebih banyak tertuju pada pemandangan visual yang memukau dan dampak ekonominya. Pemerintah daerah, tokoh masyarakat, dan berbagai lembaga sering muncul sebagai wajah utama perayaan. Sementara itu, tangan perempuan yang bekerja tanpa henti di balik layar tetap tersembunyi.

Dalam praktiknya, pembagian peran dalam pelaksanaan Tumbilotohe sering kali merefleksikan konstruksi gender tradisional. Perempuan umumnya terlibat dalam aktivitas domestik seperti menyiapkan minyak kelapa, membersihkan botol lampu, serta mempersiapkan makanan bagi keluarga dan tamu yang datang berkunjung. Sementara itu, laki-laki lebih sering terlihat di ruang publik: memasang rangka lampu, menyusun instalasi lampu di halaman atau sepanjang jalan, dan menjadi aktor utama dalam penataan visual tradisi tersebut.

Pembagian kerja ini menunjukkan bagaimana peran perempuan sering ditempatkan pada ranah pendukung yang kurang terlihat secara publik, meskipun kontribusinya sangat penting bagi keberlangsungan tradisi. Dari perspektif gender, kondisi ini dapat dibaca sebagai bentuk reproduksi norma patriarkal yang menempatkan laki-laki sebagai representasi utama dalam ruang publik budaya, sementara perempuan tetap berada pada wilayah domestik.

Namun demikian, dinamika sosial masyarakat Gorontalo juga mulai memperlihatkan perubahan. Dalam beberapa komunitas, perempuan kini turut berpartisipasi dalam proses dekorasi lampu, pengambilan keputusan komunitas, bahkan dalam kegiatan kreatif seperti lomba desain lampu Tumbilotohe. Perubahan ini menunjukkan adanya negosiasi peran gender yang lebih inklusif, meskipun belum sepenuhnya menghapus pola pembagian kerja tradisional.

Tangan perempuan tidak hanya berperan sebagai penjaga tradisi semata. Dalam proses persiapan, mereka sering melakukan kerja bersama dengan sesama perempuan di lingkungan sekitar. Aktivitas gotong royong ini tidak hanya mempercepat pekerjaan, tetapi juga memperkuat tali silaturahmi dan solidaritas antar perempuan, serta menjadi wadah untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan tentang tradisi yang diwariskan dari leluhur.

Tumbilotohe tidak hanya dapat dipahami sebagai perayaan religius dan estetika budaya, tetapi juga sebagai arena sosial di mana relasi gender diproduksi, dipertahankan, dan perlahan dinegosiasikan kembali. Analisis gender terhadap tradisi ini membuka ruang refleksi tentang bagaimana budaya lokal dapat terus berkembang dengan tetap menghargai nilai tradisi sekaligus mendorong kesetaraan peran antara laki-laki dan perempuan.

Tumbilotohe memang telah menjadi simbol kebanggaan budaya Gorontalo. Namun makna tradisi ini akan lebih kaya jika kita menyadari bahwa setiap nyala lampu yang menyala adalah bukti nyata dari kerja keras dan dedikasi perempuan. Tradisi ini benar-benar hidup berkat tangan mereka yang terus menjaga, merawat, dan meneruskan nilai-nilai luhur dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Pengki Djoha

Terkini

X