GORONTALO24JAM - Sebanyak dua puluh mahasiswa yang tergabung dalam Keluarga Mahasiswa Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (KAPSTRA) menyelenggarakan rangkaian kegiatan KAPSTRA Eco-Learning.
Program aksi sosial ini menghadirkan berbagai kegiatan edukatif seperti workshop pembuatan jamu, penanaman tanaman obat keluarga (TOGA), dan produksi eco enzyme.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, mahasiswa ingin mengajak masyarakat untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan kimia sekaligus memperkuat pelestarian keanekaragaman hayati lokal.
Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan mengenalkan cara sederhana mengolah limbah organik menjadi produk bermanfaat bagi kesehatan dan lingkungan.
Baca Juga: IAIN Gorontalo Optimalkan PUSPENMA, SDM Unggul Target
Hari pertama kegiatan berlangsung di Omah Sinau Masyarakat (OMSIMAS), Karangwaru, Yogyakarta.
Siti Rupingah, Ketua Kelompok Wanita Tani Lestari, diundang sebagai narasumber untuk membawakan materi berjudul Penguatan Ekonomi Berbasis Pemanfaatan Potensi TOGA dan Pelestarian Keanekaragaman TOGA.
Ia menjelaskan bahwa berbagai tanaman obat yang tumbuh di pekarangan rumah dapat diolah menjadi jamu yang bermanfaat untuk meningkatkan imun, meredakan penyakit ringan, hingga membantu pencegahan penyakit berat.
Menurutnya, pemanfaatan TOGA tidak hanya mendukung kesehatan keluarga, tetapi juga dapat menjadi peluang usaha bagi ibu-ibu PKK.
Salah satu peserta, Ibu Yusia, mengungkapkan antusiasmenya. Ia merasa kegiatan ini memberi wawasan baru bagi para ibu PKK dan mendorong mereka untuk mengoptimalkan sumber daya alam sekitar.
Baca Juga: Gamahumat UGM: Inovasi Lignit oleh Mahasiswa untuk Pertanian Berkelanjutan dan Target NZE
Para peserta juga berkesempatan mempraktikkan pembuatan jamu bubuk menggunakan resep asli milik Siti Rupingah, resep yang pernah meraih juara dalam Lomba Ramuan Jamu Herbal pada Karnaval Herbal Bejo tahun 2017.
Proses pembuatan jamu tersebut menggunakan bahan yang mudah ditemui di sekitar rumah, seperti jahe emprit, kayu manis, cengkeh, bunga lawang, gula, serta berbagai rempah lainnya.
Menurut Yusia, praktik langsung ini memberi pemahaman lebih mendalam tentang bagaimana bahan-bahan alami dapat menjadi produk kreatif yang ramah lingkungan.