• Sabtu, 18 April 2026

Jaga Warisan Sejarah, Lestari Moerdijat Minta Konservasi Purbakala Jadi Gerakan Bersama

Photo Author
Tri Amelia Djafar S.H, Gorontalo 24 Jam
- Sabtu, 22 November 2025 | 17:02 WIB
Wakil Ketua MPR RI, Dr. Lestari Moerdijat, S.S., M.M. (Sumber Foto : Majelis Permusyarawatan Rakyat Republik Indonesia)
Wakil Ketua MPR RI, Dr. Lestari Moerdijat, S.S., M.M. (Sumber Foto : Majelis Permusyarawatan Rakyat Republik Indonesia)

GORONTALO24JAM - Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, menegaskan bahwa pelestarian situs purbakala merupakan tanggung jawab bersama berbagai pihak.

Ia menilai bahwa langkah konservasi tidak hanya menjaga nilai sejarah, tetapi juga menjadi fondasi untuk menghidupkan kembali kawasan penelitian, pendidikan, hingga perekonomian masyarakat di sekitar lokasi.

“Temuan fosil Elephas di Patiayam, Kudus sudah menarik perhatian publik. Oleh karena itu, pelestarian situs dan lokasi di mana fosil ditemukan harus dilakukan secara kolektif dan berkelanjutan,” ujar Lestari dalam keterangan tertulisnya, Kamis (20/11).

Ia menekankan bahwa pelibatan masyarakat lokal dalam upaya konservasi juga penting agar proses pelestarian berjalan lebih efektif.

Pernyataan tersebut ia sampaikan dalam diskusi daring bersama sejumlah arkeolog pada Forum Diskusi Aktual Berbangsa Bernegara bertema Konservasi Situs dan Kolaborasi Lintas Sektoral di Patiayam, yang berlangsung di Desa Terban, Patiayam, Kudus, Rabu (19/11).

Forum ini membahas strategi penyelamatan situs purbakala serta pentingnya kerja sama antarinstansi, mulai dari pemerintah daerah, akademisi, hingga komunitas setempat.

Rerie, sapaan akrab Lestari menyoroti kondisi area penemuan fosil yang semakin rawan memasuki musim hujan.

Ia menjelaskan bahwa genangan air bukan hanya mengikis lapisan tanah pelindung fosil, tetapi juga dapat mempercepat proses pelapukan.

Karena itu, penanganan cepat dianggap sangat penting untuk mencegah kerusakan yang lebih besar.

Sebagai anggota Komisi X DPR RI, Rerie mendorong pemasangan cungkup pelindung serta pembangunan sistem drainase yang memadai di area temuan.

Menurutnya, langkah teknis seperti itu menjadi bentuk perlindungan awal sambil menunggu rencana konservasi jangka panjang yang lebih komprehensif.

Rerie juga mengingatkan bahwa temuan fosil gajah purba di Patiayam bukan hanya memiliki nilai ilmiah tinggi, tetapi juga menyimpan potensi besar untuk pengembangan wisata edukasi.

“Situs seperti ini memberi peluang masyarakat mengenal sejarah purba wilayahnya sendiri. Bila dikelola dengan baik, kawasan ini bisa menjadi destinasi wisata yang memberi dampak ekonomi bagi warga,” jelasnya.

Dengan berbagai nilai penting tersebut, Rerie menilai bahwa sudah saatnya pemerintah pusat, pemerintah daerah, peneliti, dan masyarakat bekerja lebih serius dalam menjaga keberlanjutan situs Patiayam.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Tri Amelia Djafar S.H

Sumber: mpr.go.id

Tags

Terkini

X