• Sabtu, 18 April 2026

Dari Seludang Kelapa hingga Lampu Listrik: Sejarah Perjalanan Tradisi Tumbilotohe

Photo Author
Pengki Djoha, Gorontalo 24 Jam
- Senin, 16 Maret 2026 | 17:37 WIB
Tradisi Tumbilotohe Gorontalo
Tradisi Tumbilotohe Gorontalo


Gorontalo 24 Jam– Tumbilotohe, tradisi pasang lampu khas Gorontalo yang meriahkan penghujung Ramadhan, memiliki perjalanan sejarah yang panjang dan penuh makna. Mulai dari penggunaan bahan sederhana berupa seludang kelapa hingga adaptasi dengan teknologi modern berupa lampu listrik, tradisi yang berakar sejak abad ke-15 atau ke-16 ini terus berkembang tanpa kehilangan esensi dasarnya.

Awal Mula: Seludang Kelapa sebagai Sumber Cahaya

Pada mulanya, Tumbilotohe bertujuan untuk menerangi jalan setapak yang gelap di malam hari, memudahkan masyarakat pergi ke masjid untuk melaksanakan salat tarawih dan tadarus pada malam-malam ganjil menjelang akhir Ramadhan. Bahan bakar yang digunakan adalah wamuta atau seludang kelapa yang diruncingkan pada salah satu ujungnya. Setelah dibakar, wamuta akan menghasilkan nyala api yang cukup terang untuk menerangi jalan, meskipun hanya bertahan dalam waktu terbatas dan memerlukan penggantian secara berkala.

Perkembangan: Dari Damar hingga Lampu Minyak

Seiring berjalannya waktu, masyarakat Gorontalo mulai menggunakan bahan yang lebih awet dan menghasilkan nyala api yang lebih stabil, yaitu tohe tutu atau damar. Damar yang ditempatkan dalam wadah sederhana mampu menyala lebih lama, sehingga lebih efisien untuk menerangi area yang lebih luas. Kemudian, tradisi ini berkembang lagi dengan penggunaan lampu minyak yang ditempatkan dalam botol kaca, yang tidak hanya lebih aman tetapi juga menghasilkan cahaya yang lebih terang dan merata.

Era Modern: Hadirnya Lampu Listrik dan "Malam Seribu Lampu"

Kini, seiring dengan kemajuan teknologi, Tumbilotohe tidak lagi hanya mengandalkan sumber energi yang berasal dari bahan bakar alam atau minyak. Banyak masyarakat yang mulai menggunakan lampu listrik, baik yang terhubung ke jaringan maupun yang menggunakan tenaga surya. Perubahan ini membuat dekorasi lampu dapat ditempatkan di berbagai lokasi, mulai dari halaman rumah, jalan raya, masjid, hingga lahan sawah. Ribuan lampu yang menyala bersama-sama membuat pemandangan malam hari di Gorontalo menjadi sangat indah, sehingga tradisi ini kerap disebut sebagai "Malam Seribu Lampu".

Makna yang Tetap Abadi

Meskipun bahan dan bentuk lampu terus berubah, makna dasar dari Tumbilotohe tetap tidak berubah. Tradisi ini tetap melambangkan semangat gotong royong, kebersamaan, rasa syukur, dan sebagai upaya menyambut malam Lailatulqadar yang penuh berkah. Selain itu, Tumbilotohe juga telah menjadi warisan budaya takbenda yang memperkuat persatuan masyarakat Gorontalo dan kini menjadi daya tarik wisata religi yang menarik perhatian banyak orang.***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Pengki Djoha

Terkini

X